Oleh Budi Suhardiman
Fakta tragis tentang pembunuhan seorang siswa SMPN 26 Bandung memberi pelajaran pahit bagi kita semua. Korban, ZAAQ (14 tahun), dilaporkan hilang pada 9 Februari 2026 setelah bertemu dengan dua remaja kenalannya di lahan bekas Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kabupaten Bandung Barat. Setelah beberapa hari dinyatakan hilang, jasadnya baru ditemukan pada 13 Februari 2026 oleh warga yang sedang membuat konten live di media sosial, dengan luka tusuk di perut dan bekas hantaman benda tumpul, indikasi kekerasan yang disengaja oleh pelaku yang kemudian ditangkap oleh aparat kepolisian.
Peristiwa yang berlangsung di luar lingkungan sekolah ini menegaskan satu hal penting. Persoalan ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Justru, kejadian tersebut membuka mata kita bahwa ruang-ruang di luar sekolah seperti rumah, lingkungan pergaulan, dan ruang publik memegang peran yang sangat menentukan dalam pembentukan perilaku anak.
Di sinilah kontrol dan pendampingan orang tua menjadi krusial. Anak-anak usia remaja berada pada fase pencarian jati diri, emosi yang belum stabil, dan kebutuhan besar untuk diakui. Ketika orang tua absen secara emosional, meski hadir secara fisik, anak dapat mencari pengakuan di luar rumah, termasuk dalam pergaulan yang berisiko. Kurangnya komunikasi yang hangat, pengawasan yang longgar, serta minimnya dialog tentang pertemanan dan konflik sering kali membuat anak memendam masalah hingga meledak dalam bentuk kekerasan.
Selain keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar juga memiliki tanggung jawab moral. Lingkungan yang permisif terhadap kekerasan, tawuran, atau intimidasi, bahkan yang menganggapnya sebagai “urusan anak-anak” secara tidak langsung ikut memelihara budaya kekerasan. Ketika masyarakat abai, anak-anak belajar bahwa tidak ada batas yang tegas antara benar dan salah.
Pergaulan bebas tanpa pendampingan, ditambah pengaruh media sosial yang sering memperkuat provokasi, ejekan, dan pembentukan kelompok eksklusif, membuat konflik mudah membesar. Kekerasan yang terjadi di luar sekolah sering kali merupakan akumulasi masalah yang tak pernah diselesaikan di rumah, di lingkungan, dan di ruang digital.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa pendidikan karakter tidak berhenti di gerbang sekolah. Sekolah, orang tua, dan masyarakat harus membentuk satu barisan nilai yang konsisten. Tanpa itu, anak-anak akan tumbuh dalam ruang yang penuh kontradiksi. Diajarkan kebaikan di sekolah, tetapi menyaksikan kekerasan dan pembiaran di luar.
Harapan ke Depan: Jangan Sampai Terulang Lagi
Tragedi ini harus menjadi peringatan terakhir, bukan sekadar deretan berita duka yang lalu menghilang. Tidak boleh ada lagi anak yang kehilangan masa depan karena kegagalan orang dewasa menjaga ruang tumbuhnya. Harapan ke depan hanya bisa terwujud jika ada kerja sama yang sungguh-sungguh, intens, dan berkelanjutan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Sudah saatnya sekolah, orang tua, dan masyarakat bersatu.
Sekolah perlu terus memperkuat perannya sebagai ruang aman dan ramah anak, tidak hanya melalui aturan, tetapi lewat kepekaan, pendampingan, dan komunikasi yang hidup. Orang tua dituntut untuk lebih hadir. Bukan sekadar mengawasi, tetapi mendengarkan, memahami, dan menjadi tempat pulang yang aman bagi anak-anaknya. Sementara itu, masyarakat harus berhenti bersikap acuh dan mulai mengambil peran sebagai penjaga nilai dan lingkungan sosial yang sehat bagi generasi muda.
Kerja sama ini tidak boleh bersifat seremonial atau reaktif setelah tragedi terjadi. Ia harus dibangun dalam kepercayaan, komunikasi terbuka, dan kesadaran bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama. Ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat berjalan seiring dengan nilai yang sama, menjunjung kemanusiaan, empati, dan saling menghargai, maka rantai kekerasan dapat diputus.
Harapan kita sederhana, tetapi mendasar. Sekolah dan lingkungan sekitar kembali menjadi tempat yang aman, manusiawi, dan penuh harapan. Tidak ada lagi anak yang tumbuh dalam ketakutan. Tidak ada lagi luka yang dibiarkan hingga berubah menjadi tragedi. Dari duka ini, semoga lahir komitmen bersama untuk menjaga masa depan anak-anak kita. Semoga!
(Penulis, praktisi pendidikan dan pegiat literasi)

Tinggalkan Komentar