Oleh Budi Suhardiman
MBG (Mari Bangun Garut) bukan sekadar akronim yang terdengar nyeleneh dan kekinian. Ia adalah seruan moral, panggilan kolektif, sekaligus gerakan kesadaran untuk mewujudkan visi besar: “Garut Hebat yang Berkelanjutan”.
Di usia ke-213, Kabupaten Garut mengusung tema yang sarat makna kultural: Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang. Ungkapan ini bukan hanya rangkaian kata indah dalam bahasa Sunda, melainkan refleksi jati diri dan cita-cita bersama.
Gumiwang berarti bercahaya, bersinar. Tanjeur berarti tegak, menjulang kokoh.
Dangiang bermakna berwibawa, memiliki kharisma dan kekuatan moral. Dengan demikian maka Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang adalah gambaran tentang Garut yang bercahaya karena prestasinya, kokoh karena persatuannya, dan berwibawa karena akhlak serta integritas warganya.
Tema tersebut sejatinya selaras dengan visi “Garut Hebat dan Berkelanjutan”. Garut yang hebat adalah Garut yang gumiwang, bersinar melalui kualitas pendidikan, ekonomi kreatif, pelayanan publik yang prima, dan inovasi anak mudanya. Garut yang berkelanjutan adalah Garut yang tanjeur, kokoh dalam menjaga lingkungan, teguh dalam nilai budaya, dan konsisten dalam pembangunan jangka panjang. Sedangkan dimensi dangiang hadir ketika pemerintahan bersih, masyarakat beretika, dan kepercayaan publik tumbuh kuat.
Namun, semua itu tidak akan terwujud tanpa partisipasi bersama. Di sinilah MBG menemukan relevansinya. Mari Bangun Garut bukan sekadar ajakan retoris, tetapi panggilan untuk bekerja nyata, mulai dari hal kecil yang berdampak besar. Guru membangun Garut melalui literasi dan karakter. Petani membangun Garut dengan menjaga tanah tetap subur. Pelaku usaha membangun Garut lewat inovasi dan kejujuran. Pemuda membangun Garut dengan kreativitas dan keberanian bermimpi. Pemerintah membangun Garut melalui kebijakan yang adil dan berkelanjutan.
Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Hari jadi sering kali dirayakan dengan seremoni dan simbol. Namun makna sejatinya adalah refleksi: apakah Garut sudah benar-benar gumiwang? Apakah kita sudah cukup tanjeur menghadapi tantangan global? Apakah kita telah menunjukkan sikap dangiang dalam tata kelola dan kehidupan sosial?
Usia 213 tahun adalah usia kematangan sejarah. Garut bukan lagi daerah yang mencari jati diri, melainkan daerah yang sedang memperkuat identitasnya. Ke depan, tantangan tidak ringan: perubahan iklim, persaingan ekonomi, transformasi digital, hingga dinamika sosial generasi muda. Karena itu, visi Garut Hebat dan Berkelanjutan harus ditopang oleh nilai-nilai Gumiwang Tanjeur Dangiang.
Membangun dengan Hati dan Tanggung Jawab
Garut yang bercahaya tidak lahir dari ambisi semata, tetapi dari integritas. Garut yang kokoh tidak dibangun oleh segelintir orang, melainkan dengan bergotong royong. Garut yang berwibawa tidak dihasilkan oleh kekuasaan, melainkan oleh keteladanan.
MBG adalah kesadaran bahwa membangun daerah berarti membangun diri sendiri. Ketika setiap warga mengambil peran, sekecil apa pun, cahaya itu akan menyala bersama. Dan ketika cahaya itu menyatu, Garut benar-benar akan menjadi gumiwang, berdiri tanjeur, serta tampil dangiang di tengah peradaban. Di hari dadi ke-213 ini, mari kita jadikan tema bukan hanya semboyan, tetapi komitmen.
Akhirnya, penulis mengajak Mari Bangun Garut (MBG) untuk mewujudkan Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang dan Garut Hebat yang Berkelanjutan***.
(Penulis, kepala SMPN 1 Karangpawitan dan Penggerak Literasi Kab. Garut)
| jl.cimurah No.336 Karangpawitan Garut 44182 | |
| TELEPON | (0262) 444473 |
| smpn1karpaw@gmail.com | |

Tinggalkan Komentar